Program studi tiru bertema “Soft Skill Development for Nonformal Educators: Lesson Learned from China Education System” yang berlangsung pada 5–11 Februari 2026 di Tianjin merupakan bagian dari penguatan kompetensi pendidik Pendidikan Nonformal (PNF). Tujuh pamong belajar dan tutor terpilih diundang oleh Tiangong University untuk mendalami integrasi soft skills dalam sistem pendidikan Tiongkok, dengan harapan praktik baik tersebut dapat diadaptasi secara kontekstual di Indonesia.
Program ini tidak dirancang sebagai kunjungan biasa. Setiap peserta dibagi dalam kelompok tematik dengan pertanyaan kunci yang harus dijawab melalui observasi, analisis, diskusi tim, hingga produksi video dan presentasi akhir. Tema Communication & Entrepreneurship menekankan satu fokus utama: bagaimana nilai diciptakan, dikomunikasikan, dan diterjemahkan menjadi layanan yang berkelanjutan. Selama mengikuti kegiatan ini, satu pelajaran menjadi semakin nyata: soft skills tidak tumbuh dari teori, melainkan dari pengalaman yang menantang dan kontekstual.
Di Tiangong University, khususnya School of International Education dan School of Arts, terlihat bahwa kreativitas mahasiswa tidak berhenti pada produksi karya. Setiap proyek diarahkan untuk memiliki relevansi industri dan nilai guna yang jelas. Ide tidak hanya dinilai dari keindahan atau keunikannya, tetapi dari kemampuan menjawab kebutuhan nyata. Di sinilah komunikasi menjadi kunci: kemampuan menjelaskan manfaat, membangun narasi, dan meyakinkan pengguna.
Perspektif yang sama terlihat di Tianjin Smart Port Exhibition Hall. Teknologi pelabuhan cerdas yang ditampilkan memang canggih, namun kekuatannya terletak pada sistem yang terintegrasi dan penyampaian informasi yang runtut. Kompleksitas dijelaskan secara sederhana, sehingga inovasi dapat dipahami dan diapresiasi publik.
Sementara itu, Traditional Chinese Medicine Incense Exhibition Hall menunjukkan bagaimana warisan budaya dapat dikemas menjadi pengalaman ekonomi tanpa kehilangan autentisitasnya. Budaya tidak hanya dilestarikan, tetapi dikurasi, dirancang, dan dikomunikasikan secara strategis.

Refleksi ini menjadi momentum strategis bagi SKB Ungaran. Pendidikan keterampilan tidak lagi cukup berfokus pada penguasaan teknik produksi. Murid perlu dilatih untuk membaca peluang, memahami pasar, membangun narasi produk, serta menghadirkan layanan bernilai tambah. Integrasi project-based learning dengan komponen komunikasi dan kewirausahaan menjadi langkah adaptif yang relevan dengan tuntutan zaman.
Melalui penguatan desain pembelajaran berbasis proyek nyata dan refleksi terstruktur, SKB Ungaran memiliki peluang besar untuk memposisikan diri sebagai lembaga pendidikan nonformal yang progresif, adaptif terhadap perkembangan global, dan berorientasi pada pembentukan lulusan yang tidak hanya terampil, tetapi juga mampu mengomunikasikan nilai dari setiap karya yang dihasilkan.
Studi tiru ini menegaskan bahwa integrasi soft skills bukan persoalan menambah mata pelajaran baru, melainkan mendesain ulang pengalaman belajar. Ketika tugas dirancang kontekstual, berbasis tantangan nyata, dan diakhiri dengan komitmen tindak lanjut, maka soft skills tumbuh sebagai kompetensi inti. Model inilah yang relevan untuk diadaptasi secara sistemik dalam pendidikan nonformal Indonesia.
(Indriani Eka Pratiwi)