Melati dan Keberanian Kecilnya

  • Post author:
  • Post category:Artikel

Hari Minggu pagi terasa cerah dan menyenangkan.

Matahari bersinar hangat, dan angin berhembus pelan di halaman rumah.

Melati, anak perempuan berusia lima tahun, tampak bersemangat.
Hari ini, ia akan belajar naik sepeda!

Di sampingnya, ada kakaknya, Krisna, yang berusia delapan tahun.
Krisna siap membantu adiknya.

“Ayo, Melati. Kakak pegang sepedanya dari belakang, ya,” kata Krisna sambil tersenyum.

Melati mengangguk. Ia mulai duduk di atas sepeda kecilnya.
Kakinya perlahan mengayuh pedal.

“Satu… dua… pelan-pelan…” bisik Melati.

Sepedanya mulai berjalan.
Krisna tetap memegang bagian belakang sepeda agar Melati tidak jatuh.

“Wah, aku bisa!” kata Melati dengan wajah gembira.

Ia mulai lebih percaya diri.
Kayuhannya semakin cepat.

Namun, tiba-tiba… sepeda Melati bergoyang.

“Eh… eh…” Melati mulai panik.

Pegangan tangannya goyah.
Sepedanya miring ke samping…

“Aduh!”
Melati terjatuh di halaman.

Lututnya terkena tanah dan menjadi luka.
Rasanya perih.

“Hu… hu… sakit…” Melati menangis sambil memegang lututnya. Ia memeluk lututnya dan tidak mau berdiri.
Wajahnya terlihat takut.

“Aku tidak mau naik sepeda lagi… tidak mau…” kata Melati sambil menangis.

Mendengar tangisan itu, Ibu segera keluar dari rumah.
Ibu mendekati Melati dengan wajah khawatir.

“Ada apa, sayang?” tanya Ibu lembut.

“Aku jatuh, Bu…” jawab Melati sambil terisak.

Ibu duduk di samping Melati.
Dengan hati-hati, Ibu membersihkan luka di lutut Melati.

“Sedikit perih, ya. Tapi nanti cepat sembuh,” kata Ibu sambil meniup pelan lukanya.

Setelah diobati, tangisan Melati mulai reda.
Ia masih memeluk Ibu.

Krisna mendekat dan berkata,
“Melati, ayo kita coba lagi. Kakak bantu lagi, kok.”

Namun Melati menggeleng pelan.
Ia memegang erat tangan Ibu.

“Aku tidak mau… aku takut jatuh lagi,” kata Melati.

Ibu memeluk Melati dengan lembut.
“Tidak apa-apa takut, Nak,” kata Ibu pelan.

Melati masih terisak. Ia melihat sepedanya dari jauh.

Ibu lalu berkata,
“Melati tidak harus langsung naik sepeda lagi sekarang.”

Melati menoleh.
“Tidak harus, Bu?” tanyanya lirih.

Ibu menggeleng sambil tersenyum.
“Kita bisa mulai pelan-pelan. Yang penting, Melati berani mencoba sedikit dulu.”

Ibu mengusap kepala Melati dengan penuh kasih.

“Melati, saat kita belajar naik sepeda, jatuh itu hal yang biasa,” kata Ibu.

“Bahkan saat belajar hal baru, kita bisa saja salah atau terluka,” lanjut Ibu.

Melati mendengarkan dengan diam.

“Tapi yang penting, kita tidak menyerah. Kita harus berani bangkit dan mencoba lagi walau sedikit dan pelan-pelan,” kata Ibu dengan suara lembut.

Melati menatap sepedanya.
Ia terdiam sejenak.

Kemudian, ia menarik napas pelan.

“Kalau aku jatuh lagi, Ibu tetap ada, ya?” tanya Melati.

Ibu tersenyum hangat.
“Tentu, Ibu selalu ada untuk Melati.”

Krisna juga berkata,
“Dan Kakak juga akan pegang sepedanya lagi.”

Melati mulai tersenyum sedikit.
Ia merasa lebih berani.

“Baik, aku mau coba lagi,” kata Melati.

Melati kembali duduk di atas sepedanya.
Kali ini, ia lebih hati-hati.

Krisna memegang sepeda dari belakang.
Ibu melihat dari dekat sambil tersenyum.

“Satu… dua… ayo…” kata Krisna.

Melati mulai mengayuh lagi.
Pelan… lalu sedikit lebih cepat…

Ia tidak jatuh.
Melati terus mencoba.

“Lihat, aku bisa lagi!” seru Melati dengan gembira. 

Ibu dan Krisna ikut tersenyum bangga.

Pagi itu, Melati belajar satu hal penting.
Bahwa jatuh bukanlah akhir,
tetapi awal untuk mencoba lagi.

~Selesai~

penulis: Dece Egita Ayu, S.Pd.