Ayah,
rumah terasa berbeda sejak kau tak lagi duduk di kursi itu—
kursi yang dulu selalu hangat oleh cerita-ceritamu,
oleh tawa kecil yang kau sembunyikan di balik lelahmu.
Aku masih sering pulang,
meski tak ada lagi yang menunggu di ambang pintu,
tak ada lagi suara yang memanggil namaku dengan nada paling tenang.
Namun aku tetap pulang,
karena di setiap sudut rumah ini,
kau masih tinggal—diam, tapi terasa.
Ayah,
aku tumbuh, seperti yang selalu kau minta.
Aku belajar kuat, meski sering kali rapuh,
belajar tersenyum, meski hati penuh rindu.
Ada malam-malam yang terasa terlalu sunyi,
di mana aku ingin sekali bercerita,
tentang hidup yang kadang tak ramah,
tentang langkah yang sering goyah.
Namun yang tersisa hanya doa—
yang kuucapkan pelan, berharap sampai padamu.
Ayah,
jika kau bisa melihatku dari sana,
aku ingin kau tahu—
aku masih berusaha menjadi anak yang kau banggakan,
meski langkahku tak selalu lurus,
meski hatiku kadang ingin menyerah.
Aku masih mengingat semua pesanmu,
tentang sabar yang tak boleh habis,
tentang kuat yang harus tetap berdiri,
meski dunia terasa menjatuhkan berkali-kali.
Dan Ayah,
rinduku tak pernah benar-benar reda.
Ia hanya belajar diam,
bersembunyi di sela-sela kesibukan,
lalu kembali hadir saat aku paling membutuhkanmu.
Jika suatu hari nanti kita bertemu lagi,
aku ingin memelukmu lebih lama,
menceritakan semua hal yang tak sempat kusampaikan,
aku selalu merindukanmu, dalam setiap langkah hidupku.
*Ditulis dalam rindu yang tak pernah usai*
Penulis: Habibatun Nafia’ah, S.Pd.