Sentuhan Digital untuk Mimpi yang Sama: Peserta Didik Kesetaraan dan Hak Belajar yang Menyenangkan

 

Pendidikan nonformal mulai menunjukkan taringnya di dunia pendidikan. Tampak masa sekarang masyarakat mengenal pendidikan nonformal sebagai tujuan bukan sebagai alternatif untuk menyambung ilmu pengetahuan. Para pamong belajar dan tutor pun terus berupaya menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna melalui berbagai cara kreatif agar peserta didik dapat memahami materi dengan lebih mudah dan menyenangkan.

Berangkat dari Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 2025 tentang Digitalisasi Pembelajaran, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berkomitmen untuk melaksanakan instruksi tersebut dengan sebaik-baiknya. Program ini dirancang untuk mendorong pemerataan kualitas pendidikan berbasis teknologi, sekaligus memperkuat ekosistem pembelajaran berbasis digital yang menyeluruh dan inklusif.

Sentuhan digital itu mulai terasa ketika pada bulan November 2025, SKB Ungaran menerima bantuan perangkat digitalisasi pembelajaran berupa papan interaktif digital. Bagi sebagian orang mungkin perangkat ini hanyalah sebuah layar besar yang menyerupai televisi. Namun bagi peserta didik di ruang belajar kesetaraan, layar tersebut menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda. Kita sebut “televisi besar” karena bentuknya yang besar seperti  televisi. Peserta didik kesetaraan juga antusias dengan hadirnya alat baru ini, siapkah mereka memakai ini?

UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) menjamin hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan bermutu, pendidikan khusus bagi yang berkebutuhan, serta kesempatan belajar sepanjang hayat. Tanpa terkecuali peserta didik nonformal untuk mendapatkan digitalisasi pembelajaran, salah satu cara dengan memanfaatkan televisi besar ini atau Papan Interaktif Digital.

Pada awal pemanfaatannya, papan interaktif digital diperkenalkan oleh pamong belajar dan tutor sebagai media pembelajaran yang dapat membuat proses belajar menjadi lebih interaktif. Melalui perangkat ini, peserta didik dapat mengikuti berbagai aktivitas seperti menjawab kuis langsung di layar, mencocokkan gambar dengan kata, hingga memainkan permainan edukatif yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Kegiatan yang sebelumnya hanya dilakukan melalui buku atau papan tulis kini dapat dikemas dengan cara yang lebih menarik dan menyenangkan.

Di dalamnya tersedia beragam bahan belajar yang dapat diakses dengan mudah, membuka ruang bagi peserta didik untuk mengeksplorasi pengetahuan dengan cara yang lebih menyenangkan. Tidak hanya bagi peserta didik, penggunaan papan interaktif digital juga menjadi sumber inspirasi bagi pendidik. Pamong belajar dan tutor memperoleh kesempatan untuk memperluas ide serta wawasan dalam mengembangkan media pembelajaran, baik dengan merancang media sendiri maupun memanfaatkan berbagai konten yang telah tersedia, seperti fitur Ruang Murid pada platform Rumah Pendidikan. Dengan demikian, proses pembelajaran perlahan tumbuh menjadi lebih variatif, kreatif, dan bermakna.

Di tengah segala keterbatasan yang sering dihadapi dalam pendidikan nonformal, sentuhan teknologi ini menjadi sebuah langkah kecil yang membawa harapan baru. Papan interaktif digital bukan sekadar alat, tetapi menjadi jendela yang membuka ruang bagi peserta didik untuk melihat dunia pengetahuan dengan cara yang lebih luas.

Di balik layar yang menyala dan permainan pembelajaran yang interaktif, ada harapan yang perlahan tumbuh. Harapan bahwa anak-anak ini tidak tertinggal oleh perkembangan zaman. Harapan bahwa mereka juga memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan bermimpi.

Bagi pamong belajar dan para tutor, perjalanan ini tentu tidak selalu mudah. Mereka berjalan bersama anak-anak dengan berbagai latar belakang, karakter, dan tantangan yang berbeda. Namun justru dari proses itulah kesabaran, kepedulian, dan pengalaman terus tumbuh.  Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang materi yang diajarkan, melainkan tentang kesempatan yang diberikan. Dan selama masih ada pendidik yang percaya bahwa setiap anak memiliki potensi dan mimpi, maka harapan bagi dunia pendidikan akan selalu menemukan jalannya.

(Septi Puspita)

Leave a Reply